Judul : Mao, Kisah-kisah yang Tak Diketahui
Penulis : Jung Chang dan Jon Halliday
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 958 Halaman
Terbit : Juli, 2007Mao Tse-tung adalah tokoh Partai Komunis China yang sangat berpengaruh dan kontroversial. Meskipun begitu para penganut ajarannya masih ada hingga kini. Malah mereka tidak segan mengatakan bahwa Mao masih hidup di hati mereka. Pertanyaannya, benarkah ia seseorang yang layak dikultuskan? Pertanyaan itulah yang akan dijawab dalam buku Mao, Kisah-kisah yang Tak Diketahui ini.

Buku ini secara keseluruhan ingin membeberkan siapa diri Mao Tse-tung yang sebenarnya, mulai dari kepribadian, kebiasaan, kecenderungan-kecenderungan, hingga orientasi ideologisnya. Bahkan kiprah, sepak terjang dan muslihatnya di dunia politik pun dikupas habis.
Dengan berbagai arsip, dokumen, buku dan catatan-catatan lain yang dikumpulkan dari seluruh penjuru dunia, penulis buku ini, Jung Chang bersama Jon Halliday, melakukan semacam rekonstruksi kesejarahan Mao. Keduanya berusaha untuk memperlihatkan Mao dari berbagai sisi secara objektif.
Untuk melengkapi data yang ada, penulis buku ini bahkan melakukan sejumlah wawancara dengan narasumber yang dianggap relevan dengan kisah Mao. Mereka adalah kerabat, teman-teman dekat, sejawat, tim medis, penerjemah, sekretaris, negarawan, pengawal pejabat, sejarawan dan saksi-saksi kunci dalam peristiwa bersejarah yang berkait dengan Mao. Para narasumber tersebut tidak hanya berasal dari China, tetapi dari seluruh dunia.
Hasilnya adalah biografi Mao yang sangat mendalam, lengkap, spektakuler dan sangat mengagumkan. Boleh dikatakan, dari sejumlah buku mengenai Mao yang pernah ada, buku ini adalah biografi Mao yang paling kaya dan tajam. Ketajaman dan kekayaan buku ini jauh melebihi buku-buku biografi Mao yang pernah ditulis, terutama biografi yang ditulis oleh orang-orang yang sempat berada di dekatnya, seperti dokter maupun pengawal pribadi.
Di bagian awal buku ini kompleksitas psikologis, karakter, pandangan-pandangan, serta sikap-sikap umum Mao yang hipokrit, otoriter dan kejam sudah dimulai diungkapkan, misalnya saja Mao, dari catatan pribadinya, mengaku bahwa ia menyukai pergolakan dan penghancuran. Ia bahkan akan merasakan semacam ekstase ketika melihat atau mengalami situasi seperti itu.
Lebih lanjut, seperti dikutipkan oleh penulis buku ini, Mao pernah mengungkapkan bahwa pendekatan untuk mengubah China adalah dengan penghancuran. Menurutnya, negara harus dihancurkan lalu dibentuk kembali. Penghancuran tersebut berlaku juga bagi negara, bangsa dan umat manusia, dan orang seperti Mao mendambakan penghancuran alam semesta, karena ketika alam semesta yang lama dihancurkan, alam semesta baru akan terbentuk.
Pandangan tersebut bukan hanya letupan emosi sesaat. Buktinya, di kemudian hari Mao bertahan dengan filosofi yang sama. Salah satu penerapannya adalah ketika Mao melakukan gerakan Lompatan ke Depan dan Revolusi Kebudayaan. Dalam gerakan Lompatan ke Depan, Mao terang-terang siap mengorbankan 300 juta rakyat China demi kemenangan revolusi dunia. Hal ini memang terbukti di lapangan. Proyek-proyek Mao yang kelewat percaya diri dan tidak rasional justru membawa bencana dan kesengsaraan bagi rakyat China.
Salah satu proyek tidak masuk akal Mao adalah pembuatan tanur rakyat. Perintah ini disusul dengan kewajiban rakyat untuk membuat tungku-tungku itu tetap menyala dan menghasilkan baja. Akibatnya barang-barang logam yang dimiliki penduduk, termasuk alat rumah tangga dan pertanian dilebur dan dilelehkan. Untuk keperluan ini banyak rumah dirobohkan agar kayu-kayunya dapat digunakan sebagai bahan bakar tanur-tanur tersebut. Namun demikian proyek ini gagal dan telah membuat rakyat sangat terpuruk.
Sementara itu dalam masa Revolusi Kebudayaan yang dimulai pada tahun 1966, Mao secara terang-terangan menggusur dan menghancurkan sesuatu yang dianggap berasal dari kebudayaan lama. Hasilnya sangat mengerikan, warisan sejarah China yang bernilai tinggi dan merupakan manisfestasi peradaban bangsa yang paling nyata dimusnahkan atas perintah Mao, mulai dari bangunan-bangunan kuno, monumen-monumen bersejarah, hingga perpustakaan. Kemudian, papan-papan nama jalan dan toko diganti.
Lebih jauh lagi Mao memerintahkan Pengawal Merah yang terdiri dari anak-anak muda untuk melakukan teror dan prakatik penyiksaan terhadap mereka yang dituduh memiliki hubungan dengan budaya lama, seperti penulis, pelukis, hingga pemain opera. Mereka disiksa dengan cara ditendang dan dipukul dengan tongkat berpaku. Para Pengawal Merah digambarkan memakai seragam khusus, yaitu baju hijau, ikat lengan berwarna merah di lengan kiri, dan Buku Merah Kecil (Little Red Book) di tangan kanan, ketika melakukan hal tersebut. Buku Merah Kecil adalah buku yang berisi kutipan ajaran-ajaran Mao.
Teror yang dilancarkan di seluruh penjuru negeri ini memakan jutaan korban yang tidak bersalah. Mao, lewat “mesin pembunuh” Pengawal Merah berhasil menciptakan ketakutan sampai rakyat benar-benar tunduk tanpa daya terhadap Mao. Selanjutnya Mao seperti memaksakan jalan terhadap pengultusan dirinya sendiri, salah satunya lewat jargon-jargon dan slogan-slogan yang berorientasi kepada dirinya.
Selain itu, dalam buku ini kekejaman-kejaman Mao berhasil digambarkan secara detil. Mereka yang membacanya akan menemukan suasana mencekam dan kengerian di dalamnya. Kejahatan, kebrutalan, penginjak-injakan harkat manusia, dan kebejatan moral Mao yang dibeberkan di buku ini setidaknya akan menggiring pembaca untuk menilai bahwa pemuja Stalin ini bukanlah pemimpin besar, tetapi seorang penjahat kemanusiaan. Itu sebabnya agak mengherankan jika masih ada yang menganggap bahwa Mao adalah pemimpin besar.
Sebagai sebuah biografi, buku ini sangat mudah diikuti, karena setiap babnya merupakan periodesasi usia Mao yang dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa khusus dalam periode tersebut. Misalnya saja pada bab Menjadi Orang Komunis, dituliskan periode ini terjadi pada tahun 1920-1925, di usia 17-26, lalu Bersaing dengan Stalin dituliskan terjadi pada tahun 1947-1949, pada usia 53-55. Cara seperti ini akan memudahkan pembaca untuk mengetahui perkembangan pemikiran sampai perubahan-perubahan orientasi politis dari waktu ke waktu. Sedangkan bagi para peneliti sejarah, priodesasi dalam buku ini akan lebih memudahkan penelusuran setiap peristiwa sejarah, terutama jika dikaitkan dengan peritiwa-peristiwa lain dalam periode yang sama.

Jung Chang–yang juga pernah mengalami tekanan yang berat di masa Mao berkuasa–dan Jon Halliday telah berhasil melakukan penelusuran sejarah Mao secara menakjubkan. Semua bahan yang dikumpulkan diolah dan disusun kembali menjadi sebuah historiografi. Cara penyusunan dan penyampaian yang memikat, mendorong pembaca untuk senantiasa mengikuti peristiwa demi peristiwa, yang acap kali menyodorkan fakta-fakta yang mengejutkan, hingga akhir.
Lebih penting lagi, buku ini bukan sekadar usaha penulisnya untuk membuat sebuah biografi atau penulisan sejarah, tetapi untuk mematahkan dan menghancurkan pengultusan Mao Tse-tung. Penulis seperti ingin membuka mata dunia bahwa Mao telah mencatatkan sejarah kelam kemanusiaan di China.