Dr. Emma Lloyd (Uma Thurman) adalah seorang host sebuah acara radio yang populer. Karir Emma sebagai pengisi acara konsultasi hubungan asmara meningkat pesat dengan semakin naiknya rating acara ini. Seperti juga tips-tips yang ia berikan, hidup Emma adalah hidup yang sangat teratur dan bertanggung jawab. Masalahnya, tak semuanya dalam hidup ini bisa direncanakan seperti saat Emma memberikan nasihatnya.

Emma berencana segera menikahi Richard Bratton (Colin Firth), tunangannya namun ada satu kejadian yang mengacaukan rencana yang sudah mereka buat dengan matang ini. Suatu ketika ada seorang wanita bernama Sophia (Justina Machado) yang meminta nasehat masalah asmara pada Emma. Setelah mengetahui duduk perkaranya, Emma menyarankan agar Sophia meninggalkan calon suaminya.

Celakanya, Patrick Sullivan (Jeffrey Dean Morgan), kekasih Sophia yang mengira bahwa ia akan segera menikahi Sophia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Sophia tiba-tiba meninggalkannya hanya karena nasehat dari Emma. Patrick pun segera merancang skenario balas dendam dengan meminta salah seorang temannya agar membobol sistem data negara dan membuat status Emma menjadi ‘telah menikah’ dengan Patrick. Dengan begitu, Emma tak bisa menikahi Richard, tunangannya.

Emma tak bisa berbuat apa-apa selain memohon pada Patrick agar mau menandatangani surat pernyataan bahwa pernikahan mereka tidak sah dan saat ini dimanfaatkan Patrick untuk mempermainkan Emma yang sedang putus asa. Tapi seperti juga Emma, Patrick tak sadar bahwa dalam hidup tidak semuanya bisa berjalan seperti yang direncanakan.

Di atas kertas, THE ACCIDENTAL HUSBAND ini sebenarnya menjanjikan banyak hal. Pertama karena konsep dasar yang sudah cukup kuat. Selama diterjemahkan ke dalam bentuk naskah dengan baik maka konsep yang sudah kuat ini bisa menjanjikan sebuah tontonan yang sangat menarik. Yang kedua tentu saja adalah nama-nama pemeran yang dipasang. Paling tidak, Uma Thurman, Jeffrey Dean Morgan, dan Colin Firth sudah membuktikan bahwa kemampuan akting mereka berada di atas rata-rata.

Sayangnya konsep yang sudah bagus itu ternyata tak terlalu berhasil dalam eksekusinya. Penyebabnya adalah ending yang terlalu dipaksakan. Konsep happy ending memang identik dengan film-film Hollywood meski pada kenyataannya tidak semua orang pada akhirnya mendapatkan happy ending. Dan di sini sang sutradara sepertinya terlalu enggan untuk mengubah pakem happy ending ini demi kesatuan alur cerita yang menarik.

Sub plot yang dibangun di sekitar alur utama pun sepertinya tidak terlalu mendapat perhatian. Artinya, alur-alur kecil ini jadi terasa tidak berkesan dan hanya sekedar tempelan pada jalan cerita utama saja. Padahal sub plot ini sebenarnya cukup punya potensi untuk mendukung alur utama yang sudah cukup bagus.

Di sisi akting pun ketiga pemeran utama ini sepertinya tak berhasil mengeluarkan potensi mereka secara maksimal. Potensi Colin Firth terasa sia-sia karena ia tak mendapat peran yang cukup besar sementara chemistry antara Uma Thurman dan Jeffrey Dean Morgan juga terasa hambar. Alhasil, konsep dasar yang kuat tadi pun jadi sia-sia juga.