Gencarnya pemberitaan media yang mengusung isu pembubaran Satgas Antimafia Hukum pasca pernyataan terdakwa kasus mafia pajak Gayus Tambunan di PN Jakarta Selatan, tentu memunculkan sejumlah tanya di benak masyarakat, termasuk saya pribadi. Siapa ini yang benar? Siapa yang berbohong? Satgas atau Gayus kah?

 

Masing-masing kubu berbantahan, mengklaim diri sebagai pihak yang mengungkapkan kebenaran. Sejuta argumentasi yang disampaikan oleh masing-masing kubu, di mata kita tentu tidak akan obyektif. Kita tentu butuh opini pihak lain yang netral, mengerti persoalan, dan kita yakini integritasnya. Ibarat kata, ketika divonis menderita suatu penyakit oleh dokter, kita tentu membutuhkan second opinion untuk meyakinkan dan menghilangkan keraguan tentang penyakit apa yang sebenarnya tengah kita derita.

 

Dalam perdebatan soal Satgas, saya pun berikhtiar mencari second opinion itu. Saya pribadi tidak mungkin mengharapkan pencerahan dari seorang Aburizal Bakrie, Bambang Soesatyo, dan Azis Syamsuddin, karena dalam kasus ini (diarahkan ataupun tidak oleh Satgas), Gayus dan penasehat hukumnya di persidangan telah menjelaskan bahwa duit puluhan miliar itu didapatnya dari perusahaan Grup Bakrie. Saya pun tidak mungkin mengharapkan pencerahan dari seorang Fachri Hamzah, Anis Matta, Akbar Faisal dan para inisiator Pansus Bank Century lainnya, karena mereka kadung menganggap salah satu anggota Satgas, Denny Indrayana sebagai enemy karena getol membela Sri Mulyani dan Boediono dalam kasus Century. Saya pun tidak mungkin mengharapkan pencerahan dari seorang Hotma Sitompul. Saya menilai ada kejanggalan dari pernyataan Gayus pascavonis yang mengkaitkan kasusnya dengan upaya menutupi rekayasa kasus Antasari Azhar oleh Jaksa Cirus Sinaga. Kok rasanya tidak nyambung yah? Sepertinya ada pihak yang menitipkan kalimat itu untuk disampaikan oleh Gayus. Beberapa media massa pun saya yakini tidak obyektif karena mereka memiliki afiliasi dengan kelompok tertentu yang berkepentingan dalam kasus itu.

 

Saya pun tidak mungkin mengamini pernyataan Presiden SBY yang menyatakan tetap percaya kepada para anggota Satgas, karena mereka adalah anak buahnya, yang tentu tidak mungkin Presiden berkata “saya tidak percaya kalian!”

 

Di tengah kebimbangan, saya patut bersyukur karena pada akhirnya ada tokoh-tokoh semacam Anies Baswedan, budayawan dan tokoh pers Goenawan Mohamad, Komaruddin Hidayat, Wimar Witoelar, Bambang Harymurti, Bambang Widjojanto, Rheinald Kasali, d.l.l. menyampaikan pernyataan sikapnya. Mereka adalah tokoh-tokoh yang saya yakini masih memiliki kejujuran, moralitas dan integritas yang tidak perlu diragukan lagi. Kamis (26/1/2011) di Galery Cafe, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, mereka mendeklarasikan Gerakan Rakyat Anti Mafia Hukum (Geram Hukum). Dukungan mereka pada pihak-pihak yang berperan melawan korupsi, seperti KPK, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, LPSK, PPATK, dan Pengadilan Tipikor, sedikit banyak menghapus keraguan saya mengenai Satgas Antimafia Hukum. Pernyataan dan kepercayaan para tokoh tersebut pada kinerja Satgas Antimafia Hukum, kembali meyakinkan saya bahwa lembaga ini memang dibutuhkan dalam kondisi carut-marut penegakan hukum kita saat ini.

 

Memang, kehadiran Satgas telah mengusik banyak pihak, utamanya di lingkungan penegak hukum sendiri, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, dan advokat. Hal ini semakin membuka mata saya, bahwa praktik mafia hukum di negara kita sudah demikian massif. Hal yang tak perlu malu untuk kita akui walaupun sangat memuakkan. Kasus Gayus menunjukkan kepada kita, bagaimana praktik mafia hukum terjadi di semua lini, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, dan advokat. Menunjukkan kepada kita betapa hukum pun telah menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan. Kemudian saya berandai-andai, bila tanpa Satgas, tentu kasus Gayus ini akan menguap begitu saja mengingat banyak kepentingan dan pihak-pihak yang terkait di situ.

 

Saat ini, menurut saya, segala persoalan mafia pajak dan mafia hukum terkait Gayus Tambunan, sebaiknya diselesaikan secara hukum, tentu oleh lembaga penegak hukum yang kita yakini masih steril, yaitu KPK. KPK pun tidak perlu “malu-malu” untuk mengambil alih kasus Gayus. Jangan ada lagi intervensi politik melalui Panja, Hak Angket, maupun apa lah yang justru menjadikan upaya penyelesaian kasus menjadi semakin tidak jelas dan berujung pada bargaining politik yang tidak sehat.

 

Akhirnya, saya tidak bingung lagi untuk memilih percaya siapa. Dari rekam jejak masing-masing pihak, seharusnya mudah untuk memilih apakah perlu mendukung mendukung Satgas Cs atau Gayus-Ical Cs. Makin jelas bahwa yang ingin Satgas bubar adalah Gayus, Ical, Partai Golkar, Bambang Soesatyo Cs, Hotma Sitompul, OC Kaligis, Ayin, d.l.l. Sedangkan kelompok pendukung Satgas adalah para deklarator GERAM HUKUM seperti Anies Baswedan, Goenawan Mohamad, Bambang Widjojanto, Teten Masduki, Komaruddin Hidayat, d.l.l.

 

Jadi, mana yang anda lebih percaya: Gayus-Ical atau Satgas-GERAM HUKUM?

 

Generalisai=Gencarnya pemberitaan media yang mengusung isu pembubaran Satgas Antimafia Hukum pasca pernyataan terdakwa kasus mafia pajak Gayus Tambunan di PN Jakarta Selatan, tentu memunculkan sejumlah tanya di benak masyarakat, termasuk saya pribadi. Siapa ini yang benar? Siapa yang berbohong? Satgas atau Gayus kah?

hipotesa=Masing-masing kubu berbantahan, mengklaim diri sebagai pihak yang mengungkapkan kebenaran. Sejuta argumentasi yang disampaikan oleh masing-masing kubu, di mata kita tentu tidak akan obyektif.

teori=Dalam perdebatan soal Satgas, saya pun berikhtiar mencari second opinion itu. Saya pribadi tidak mungkin mengharapkan pencerahan dari seorang Aburizal Bakrie, Bambang Soesatyo, dan Azis Syamsuddin, karena dalam kasus ini (diarahkan ataupun tidak oleh Satgas), Gayus dan penasehat hukumnya di persidangan telah menjelaskan bahwa duit puluhan miliar itu didapatnya dari perusahaan Grup Bakrie.

analogi=Saya pun tidak mungkin mengharapkan pencerahan dari seorang Hotma Sitompul. Saya menilai ada kejanggalan dari pernyataan Gayus pascavonis yang mengkaitkan kasusnya dengan upaya menutupi rekayasa kasus Antasari Azhar oleh Jaksa Cirus Sinaga.

induksi=Saya pun tidak mungkin mengamini pernyataan Presiden SBY yang menyatakan tetap percaya kepada para anggota Satgas, karena mereka adalah anak buahnya, yang tentu tidak mungkin Presiden berkata “saya tidak percaya kalian!”